UNTUK mengisi era reformasi ini, saya ingin mengajukan konsep “Reformasi Sains Matematika Teknologi”, yang tiada lain untuk memberikan nilai tambah terhadap kesejahteraan, kemajuan, dan kehormatan bangsa.
Melalui Reformasi Sains Matematika Teknologi akan banyak ditemukan celah untuk memperdayakan ketiganya, tanpa terbelenggu oleh kelaziman yang berlaku selama ini, yang gilirannya memberikan peluang bagi munculnya berbagai produk unggulan : pemikiran cendekiawan sampai produktivitas industri.
Dalam kaitan dengan krisis moneter yang sedang menimpa Indonesia sekarang ini, kita memerlukan terobosan untuk jangka pendek untuk menekan dampak buruk yang ditimbulkannya terhadap sebagian besar rakyat.
Misalkan fisika yang selama ini cenderung tidak menyentuh urusan dapur dalam rumah tangga. Apa sudah menjadi tradisi? Rasanya belum.
Saya pernah mengajukan masalah ini kepada sejumlah mahasiswa fisika kita di LN. Sebagian besarnya bersikap riskan. Malah ada yang kelihatannya tersinggung, yang akhirnya melontarkan kalimat yang kurang enak. “Untuk apa jauh-jauh belajar fisika kalau hanya untuk gituan”. Begitulah salah satu nadanya.
Padahal dalam fisika banyak terkandung upaya memberikan tambah kalau saja pakarnya bisa menerapkannya pada urusan dapur. Kemudian ditindaklanjuti berupa apresiasi.
Hanya saja karena belum menjadi tradisi ya bisa kita lihatlah ruang lingkupnya. Seolah-olah ada mitos dikotomis keduanya.
Kita tahu, sampai sekarang BBM yang terpopoluer di kalangan rumah tangga adalah minyak tanah, terutama daerah pedalaman.
Adanya kerusuhan di Pasuruan pada awal tahun ini yang berpangkal isu kenaikan minyak tanah menunjukkan masih kentalnya BBM tersebut sebagai salah satu komponen SEMBAKO secara nasional.
Melalui Reformasi Sains Matematika Teknologi yang diajukan, saya akan mengusulkan kepada pemerintah untuk menghimbau para pakar dari kelompok SMT, agar mengaitkan bidang ilmunya masing-masing terhadap upaya penghematan anggaran rumah tangga, terutama SEMABKO.
Minyak tanah, misalkan, yang pemborosannya sering terjadi. Bisa saja di samping “sengaja” atau “lalai”, juga karena “tanpa ilmu”. Celakanya sering juga menimpa kalangan fakir miskin.
Semua itu bisa ditekan kalau saja para pakar mau meluang waktunya untuk mengapresiasikan berbagai kiat melalui aplikasi bidang ilmunya. Untuk minyak tanah, fisika bisa diandalkan.
Taroklah adanya kiat bisa menghemat minyak tanah sampai 20 persen. Berarti mereka yang sebelumnya menghabiskan sekitar dua liter untuk setiap harinya, bisalah menghemat sekitar 12 liter dalam sebulan.
Bisa diprediksi dampak ekonomisnya bila berhasil dipresiasikan secara nasional. Belum lagi nilai baktinya kepada bangsa.
Itulah nikmatnya kalau setiap tetes ilmu dijadikan untuk meningkatkan peradaban.
Mengirit minyak tanah melalui sentuhan fisika sebenarnya sangat sederhana. Tetapi bila diapresiasikan/dimobilisasikan secara seriusdan menyeluruh bisa meringankan problematika ekonomi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Kita ambil contoh lainnya, yaitu “kiat menanam cabai”.
Karena sangat sederhana, kemudian dijadikan gerakan oleh pemerintah pada tahun 1996, lihatlah hasilnya : cabai sempat menjadi over dosis.
Terlepas bagaimana harga cabai pada saat krisis moneter kini, namun esensi dari gerakan tersebut bisa kita petik, yaitu pemanfaatan lahan di rumah untuk memberikan nilai tambah bagi kehidupan, tanpa melibatkan bibit impor sedikit pun.
Nah berpangkal dari itulah, rasanya dalam situasi krisis moneter sekarang ini tidaklah berlebihan bila riset di berbagai bidang memprioritaskan masalah sederhana seperti itu untuk kemudian hasilnya diapresiasikan/ dimobilisasikan. Sehingga dengan sumber daya alam yang ada di sekitarnya, berbagai lapisan masyarakat bisa mengeksploitasinya sehingga memberikan nilai tambah.
Rasanya nurani siapa pun akan sedih kalau ada pakar Sateologi hanya tenggelam dengan risetnya berupa pengembangan sate untuk konsumsi turis asing di hotel bintang lima, sementara di sekitarnya para pedagang sate keliling panik mencari jalan keluar, agar bisa mempertahankan citarasanya berhubung harga beberapa bahannya terus naik di pasaran.
Sedangkan reformasi di bidang Matematika adalah bagaimana menjadikan setiap materi yang diberikan di kelas sebagai yang terhubungkan dengan kehidupan sehari-hari, yang selama ini hanya sekedar “mekanisme simbol tanpa makna”, tidak diarahkan untuk mengatasi problematika kehidupan.
Seperti kita ketahui, minggu-minggu pertama pada tahun ajaran baru murid-murid kelas I SMP ketika jam pelajaran Matematika biasanya sudah diberi materi :
(a – b)(a + b) = a2 – b2 –> a kuadrat – b kuadrat
Ketika tiba waktu ulangan, sebagian besar dari mereka bisa menjawab untuk soal : (a – b)(a + b) =
Sehingga memberi kredit point terhadap isi rapor untuk pelajaranmatematika. Ini berlangsung dari tahun ke tahun.
Tetapi kenyataannya mengapa peradaban bangsa Indonesia dalam perhitungan perkalian seperti 48 x 52 dalam sampai sekarang masih seperti berikut ini :
4 8
AAAAA5 2
AAAAA— x
AAAAA9 6
AAAAA2 4 0
AAAAA——– +
AAAAA2 4 9 6
AAAAAPadahal dalam (a + b)(a – b) terkandung makna perhitungan lebih cepat, sehingga menjadi :
AAAAA48 x 52 = (50 – 2)(50 + 2) =
AAAAA50 kuadrat – 2 kuadrat =
AAAAA2500 – 4 = 2496
AAAAASaya perhatikan juga, adakalanya waktu transaksi menjadi lebih lama hanya karena lama perhitungannya.
AAAAAKalau di kota mungkin masih mendingan, karena dewasa ini banyak transaksi sudah melibatkan kalkulator. Terlebih kalkulator sudah dibeli dengan harga di bawah Rp. 10.000 meskipun daya tahannya diragukan.
AAAAATetapi di desa sebagai tempat mayoritas bangsa kita memang lain. Tentu kalkulator masih dianggap barang mewah. Tentu perhitungan pun akan terasa lebih lama. Nah dengan adanya upaya resep perhitungan seperti dari saya itu diharapkan waktu transaksi pun akan berlangsung lebih cepat walaupun untuk menciptakan kondisi itu akan memerlukan proses.
——————————————————————————–
JANGKA PANJANG
Sedangkan untuk jangka panjang, konsep saya kepada pemerintah berupa usulan, agar segera memproklamirkan keyakinan kepada seluruh rakyat bahwa Indonesia pun mempunyai peluang untuk menyaingi/mengalahka negara mana pun di
bidang Sains Matematika Teknologi, termasuk negara-negara yang selama ini banyak memberikan bantuan di bidang tersebut. Karena memang, secara ilmiah pun tidak ada tanda-tanda bahwa suatu negaraharus di bawah negara lain di bidang SMT secara terus-menerus.
Saya menyatakan begitu betul-betul dengan pikiran sentral, dalam artian, terlepas, apakah saya orang Indonesia atau tidak.
Target pertamanya adalah menghilangkan mitos bahwa Indonesia tidak bisa mengalahkan/menyaingi negara seperti di Amerika/Eropa di bidang tersebut.
Jangan anggap mitos itu nggak ada. Di kalangan pakar kelompok SMT masih ada. Karenanya harus kita hapus.
Bagaimana pun mitos itu bisa menimbulkan berbagai konsekwensi terhadap prestasi di bidang SMT. Hanya mungkin saja tidak terasa.
Malah ada dua orang calon Ph.D tidak setuju akan konsep saya ini. Alasannya : “Sains is Sains” atau “Teknologi is Teknologi”. Maksudnya jangan dikaitkan semua itu dengan upaya memberikan kehormatan bangsa.
Apa mereka nggak tahu bahwa Sains Matematika Teknologi merupakan mata rantai pemikiran manusia di mana terbentuknya melalui perjalanan waktu.
Rasanya siapa pun akan merasa sedih sampai geram bila di antara mata rantai SMT tidak ditemukan sosok pemberi kehormatan bangsanya.
Kalau itu diibaratkan dengan klasemen medali Olimpiade, maka bisa dibayangkan, bagaimana perasaan kita kalau di dalamnya tidak tercantum nama bangsanya.
Mungkin sekarang tampaknya tidak menjadi masalah. Tetapi pada era globalisasi perdagangan bebas nanti, sentimen kebangsaan bidang tersebut akan terasa pentingnya. Karena di sana akan terkandung sarana untuk menghindari persaingan, yaitu berupa berbagai upaya mencari terobosan melalui Reformasi Sains Matematika Teknologi.
Kalau kita sudah mengimpor teknologi “Martabak Tahu” dan “Goreng Telor” dari barat, misalkan, rasanya konyol kalau kita terus ngotot untuk berkompetisi di bidang kedua makanan tersebut dengan barat. Kenapa? Terang saja barat tidak akan memberikan resep intinya. Paling yang dia berikan apalagi kalau bukan kulitnya. Apakah itu yang kita banggakan?
Nah sebagai jalan keluarnya ya kita harus berani melakukan terobosan dengan menciptakan “Martabak Tahu”.
Suasana upaya mencari terobosan seperti itu akan semakin terasa bila si peneliti dibekali jiwa semangat merah putih.
Tetapi bagaimana pun, sentimen kebangsaan tersebut tetap dalam kerangka persahabatan antar negara. Sama lah dengan sentimen kebangsaan dalam cabang olahraga bulutangkis, seperti kejuaraan bulutangkis “PIALA THOMAS”.
Ingat! Manusia yang tidak mempunyai kebangsaan pada suatu bidang akan menjadi mangsa oleh bangsa lain di bidang makanan tersebut.
Memang itu tidak mungkin terwujud dalam waktu dekat ini. Apalagi sarana untuk mencapainya pun masih jauh panggang dari api. Namun bagaimana pun kobaran tersebut harus sudah tertanam bangsa kita secara merata : dari Sabang sampai Merauke. Ini penting untuk memberikan kredit point semangat pada bangsa kita sehingga giliran memunculkan bibit unggul untuk tampil berperan/merintis ke arah sana.
Indonesia pun bisa mengusir penjajahan antara lain karena adanya keyakinan secara menyeluruh ketika itu : “bangsa kita bisa mengusir penjajahan dari bumi Indonesia” di mana ketika tidak sedikit pula dari bangsa kita bersikap pesimis.
Nah maka dari itu marilah kita rintis dari sekarang. Karena cara pandang pada suatu generasi tidak akan terlepas dari cara pandang generasi sebelumnya.
Demikianlah antara lain konsep yang saya ajukan. Hanya sekarang saya sedang menjajaki jalur komunikasi untuk bisa sampai terjadinya dialog tersebut dengan pihak pengambil keputusan. Syukur-syukur bila ada pihak bersedia menjadi mediatornya. (Nasrullah Idris, bidang studi : Reformasi Sains Matematika Teknologi)
BALIK